Blogger Widgets

Categories

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

RAHASIA PRIA DAN WANITA


Jika pria menginginkan pengertian, maka wanita itu butuh perhatian.
Pria terpesona akan kecantikan, maka wanita lebih tergiur kemapanan.
Seorang pria hendak menikah berujar, “Aku ingin wanita yang siap diajak hidup susah.”
Wanita bilang,”Aku akan menerima pria yang mengajakku nikah, bukan mengajakku hidup susah.”

Kalau pria suka merayu, sebenarnya wanita tersanjung jika dipuji dan dirayu.
Jika pria suka mengumbar kata gombal, wanita akan berkata, ”Ah, gombal!” namun hati kecil sebenarnya suka digombalin.

Kesetiaan pria teruji saat berkelimpahan, kesetiaan wanita terbukti saat kekurangan.
Jika banyak pria mencari harta dan tahta untuk mendapatkan wanita, sebaliknya tak sedikit wanita menakhlukan pria untuk mendapatkan harta dan tahta.

Pria lebih mengharapkan pelayanan dan penghargaan, sedangkan wanita membutuhkan pengayoman dan belaian kasih sayang.

Pria itu sebentar … wanita itu lama …
Pria itu sebentar menduda, kalau wanita lama menjanda kadang hingga tutup usia.
Pria itu romantisnya sebentar, sedangkan wanita tak menggebu tapi bertahan lama.
Pria itu cepat … wanita itu lambat …
Pria itu cepat lupa jika ada masalah, sedangkan wanita itu ahli sejarah.

Selasa, 14 Juli 2015

CINTA ITU LAMA






















Cinta tidaklah seperti kisah Bandung Bondowoso yang bisa membangun seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Membangun dan merawat cinta memerlukan waktu seumur hidup.
Tapi kalau “jatuh cinta”, satu kedipan mata pun cukup. Namun jika anda “jatuh” karena cinta pada pandangan pertama, jangan salahkan siapa-siapa. Karena cinta ini hanya menjamin anda “jatuh” bukan untuk bangun.

Cinta dibuktikan dengan laju putaran waktu, bukan asal “njeplak” bilang I love you, atau menggombal dengan rayuan “aku tak bisa hidup tanpamu.”
Rumah tangga itu bukti cinta kelas tinggi, Bersama dalam perbedaan dan proses mencapai tujuan bersama. Proses yang lama dan tidak singkat.

Perlu kesabaran menghadapi hidup dan kelakukan aneh pasangan yang …
LAMA ... mendapatkan anak..
LAMA ... mendapatkan rumah tinggal..
LAMA ... mendidik anak..
LAMA ... mendapatkan kendaraan..
LAMA ... mengumpulkan tabungan..
LAMA ... bekerja..
LAMA ... datang..
LAMA .. pulang..
LAMA ... di kamar mandi
LAMA ... di kantor..
LAMA ... di toko..
LAMA ... di pasar..
LAMA ... dandan..
LAMA … BBM-an..
LAMA … FB-an..
LAMA … nonton TV..
LAMA … arisan..
LAMA … rapat
Dan puluhan lama yang lain.

Begitulah cinta, seni tingkat tinggi dalam menghadapi “kelamaan”.
Kalau anda belum mengalami, jangan pernah bilang mencintai.
Nanti kata-katamu akan terbukti, ternyata basi!

Minggu, 12 Juli 2015

KEAJAIBAN MEMAAFKAN




Jika berharap pasangan hidupmu menjadi penyejuk mata … maafkan dia.
Ingin buah hatimu menjadi anak shalih shalihah … maafkan mereka.
Berharap saudara, orang tua, rekan, kawan, murid, karyawan, tetangga mendengar dan memperhatikanmu … maafkan mereka.
Kenapa begitu?
Kenapa bisa?

Karena begitulah Allah mengajarkan.
“Maafkanlah dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”
(Surat Al-A'raaf 199)
Dahulukan memaafkan sebelum memberi nasehat atau menyuruh kepada kebaikan.
Mengapa?
Memberi nasehat seseorang seperti menanam di sawah, jika tanah keras jangan harap kita bisa menanam sesuatu. Cangkul akan terlempar bahkan bisa berbalik mengenai diri sendiri. Begitu pula perumpamaan seseorang yang sedang marah dan keras hati saat dinasehati.
Maka perlu diairi, dicangkul, dibajak ... dengan apa?
Dengan maaf…
maaf …
dan maaf 
(ta’fuu, tashfahu, taghfiru)

Sebagaimana Firman Allah dalam Surat At-Taghabun ayat 14 :
“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Makanya tak heran jika Rasulullah menyuruh seorang sahabat memaafkan pelayannya sehari 70 kali. Apalagi kepada anak … istri ... saudara ... sahabat … orang tua.
Maafkanlah sebelum mereka meminta maaf. Sifat ini telah membuat seorang sahabat Rasulullah SAW dijamin masuk sorga.

Memaafkan bisa membuat orang lain berubah.
Memaafkan membuat hidup kita menjadi lebih indah.

BERKAWAN DENGAN PERUBAHAN




Kawan, ujung daunmu mulai banyak yang menguning. Dahanmu pun mulai kering. Tak seperti bulan lalu, dirimu masih begitu segar dan bening. Kini badanmu mulai kurus, kulitmu pun mulai layu. Bagian tubuhmu mulai berguguran. Seperti pagi ini, kutumpuk banyak daun kering yang berserakan.

Sebenarnya aku tak pernah lupa memberi air kesegaran, tapi musim tak bisa dilawan. Usahaku hanyalah sebuah upaya sederhana. Perputaran kodrat alam tetap berjalan.

Kawan aku memahami bahasamu. Saat engkau menggugurkan dedaunan tak selalu menandakan kematian. Bahkan kau menunjukkan kekuatan. Bahwa engkau mampu menyesuaikan diri di segala keadaan. Dirimu menunjukkan sebuah kemampuan bertarung di segala medan. Hal yang terhebat adalah membuktikan engkau bisa selaras menikmati perubahan. Bahkan tanpa sepatah kata keluhan!

Perubahan adalah fakta. Proses ini tak pernah berhenti bekerja. Tak hanya pada tanaman tetapi juga bekerja dalam hidup manusia. Jika ada yang berguguran dari bagian hidup kita, sebenarnya kurang pantas terburu menghakimi bahwa hal itu keburukan. Suatu yang hilang bisa menjadi kebaikan. Bukankah jika ada daun yang gugur, akan tumbuh kuncup daun yang baru?

Adakah hal yang tak berubah dalam kehidupan ini? 
Ada … ya, cuma ada satu hal.
Satu hal yang tak pernah berubah di dunia ini … yaitu perubahan itu sendiri.
Mari kita lihat para resepsionis yang berjaga di lobi hotel. Mereka tak hanya menyambut tamu yang datang, tetapi mempersilakan tamu yang pergi. Tentunya dengan senyuman, keramahan, dan kehangatan

Demikian pula dalam hidup ini, selalu ada yang datang namun ada juga yang pergi. Orang-orang yang kita cintai, harta benda, saudara, kawan, keadaan, suasana hati. Mereka semua adalah tamu dalam hidup ini.

Masalahnya, bisakah kita bersikap seperti sang resepsionis? Mampukah kita selalu menyambut tamu hidup yang datang dan pergi dengan senyuman, bahkan jabat tangan penuh ketulusan?

Om Koko
Beranda, 28 Mei 2015

MAAFKAN DIA 70 KALI SEHARI



Kita pasti pernah dibuat kesal dan dikecewakan seseorang. Oleh siapakah?
Dikecewakan orang yang tak kita kenal atau tak dekat secara personal sangat mudah untuk dilupakan. Namun terasa lebih menyakitkan jika dikecewakan oleh orang terdekat. Mereka yang lalu-lalang dalam kehidupan kita setiap hari. Bisa jadi orang tua, pasangan hidup, anak, saudara, kawan, rekan kerja, atasan, bawahan, sahabat dan orang-orang yang sebenarnya kita sayangi.
Begitulah hukum alam paradoks kehidupan, semakin besar cinta semakin besar pula kemungkinan benci.
Apa alasan kita kecewa?
Ya, karena menurut kita, dia salah.
Mungkin dia salah ucap yang membuat kita salah sangka. Atau dia salah bersikap yang menjadikan salah memahami. Dia salah bertindak sehingga kita salah mengerti.


Bukankah sebenarnya keduanya berbagi kesalahan? Kita manusia biasa dan bukan malaikat. Sehebat apapun tak pernah bisa luput dari salah, namanya juga manusia. Semua wajar adanya, jadi dimaafkan saja.
Oke … kita maafkan, mencoba berlapang dada. Tak perlu menyalahkan dan menunjukkan bahwa dia salah jika itu membuat suasana makin panas dan kita semakin sulit memaafkan.
Baiklah kali ini kita sudah berhasil mengalahkan diri sendiri. Tetapi apa daya ternyata dia membuat kesalahan lagi. Ya … dia kembali melakukan hal yang membuat kesal! 
Kenapa harus diulang? Atau memang sengaja membuat kita marah?


Ah … bukankah kita juga selalu mengulang dosa kepada-Nya? Bukankah Dia selalu memberi kesempatan? Dia selalu bersedia memberi pengampunan? Baiklah, kita maafkan lagi. Bagaimana jika membuat kesalahan lagi? Maafkan lagi. Jika berbuat salah lagi? Maafkan lagi. Begitukah? Sampai kapan? Sampai maut menjemput, karena begitulah Rasulullah SAW mengajarkan.

Ingat kisah seorang laki-laki yang bertanya tentang berapa kali batas memaafkan pelayan/pembantu/asisten rumah tangga. Rasulullah tak menjawab, hingga pertanyaan tersebut diulang tiga kali. Akhirnya dijawab oleh beliau,”MAAFKAN DIA SEHARI TUJUH PULUH KALI.” 
Wooow!!!
Mendengar kisah dalam kitab Sunan Abu Dawud tersebut sungguh membuat saya terkesima, tertampar dan tertegun. Jika seorang pembantu saja mempunyai hak untuk dimaafkan hingga 70 kali sehari, bagaimana dengan anak, istri, suami, orang tua, saudara, kawan, rekan, dan handai taulan?
Mereka jauh lebih pantas kita maafkan. Janganlah sebuah kesalahan jadi nila setitik dan rusaklah susu sebelanga. Jika sedang bermasalah seakan tak ada sebiji sawi pun kebaikannya. Begitulah bujuk rayu setan yang selalu menebar permusuhan.
Teringat juga kisah saat Rasulullah SAW beliau berkata dalam majelisnya “Sebentar lagi kalian akan melihat ahli surga.”
Tak lama datanglah pemuda yang biasa dan sederhana sambil menenteng sandal. Sontak hal ini membuat beberapa sahabat Nabi SAW penasaran mencari tahu amalan apa yang menyebabkan dia dijamin masuk surga oleh Rasul-Nya.
Abdullah bin Amru pun rela menginap tiga malam di rumahnya namun tak menemukan hal istimewa, semua biasa saja. Setelah hari ketiga dia pun bertanya. Pemuda itupun hanya menjawab dengan jawaban yang sederhana pula,”Aku tak akan tidur sebelum memaafkan semua orang yang pernah menyakitiku.”
Kecewa, sakit hati itu manusiawi. Asal jangan jadi dendam. Dendam itu ibarat duri dalam hati. Rasanya ngilu dan sangat nyeri. Jika duri di kaki saja kita lepaskan, kenapa duri dalam hati kita biarkan?

SEBUAH MUTIARA SURAT AL KAHFI


Jika Surat Al Kahfi ini diibaratkan samudera yang luas, di dalamnya terdapat ribuan tiram. Setiap tiram menyimpan sebuah mutiara yang berharga. Saya hanya akan memungut sebuah tiram dan mengambil satu biji mutiara dari tubuhnya, Maka tulisan ini pun hanyalah satu diantara ribuan mutiara Surat Al Kahfi.

BELAJAR DARI KUNGFU PANDA





Setiap orang pasti mempunyai harapan dan cita-cita dalam hidupnya. Apapun impian anda … apakah ingin menjadi penulis profesional, pengusaha sukses, marketing handal, ulama yang alim, hafizh, memberangkatkan haji orang tua, mendirikan perusahaan, ponpes, panti asuhan dan lain sebagainya. Jagalah mimpi anda, seperti Poo “Si Kungfu Panda” yang selalu

BLACK BOX HIDUPMU




Si Kotak Hitam atau dalam bahasa internasional disebut Black Box, akhir-akhir ini ramai disebut dalam berbagai berita dan media. Pemberitaan pencarian puing pesawat dan jenazah pesawat Air Asia yang mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu masih menjadi topik yang hangat untuk diberitakan.
Black blox adalah alat

ILMU JIWA ALA SPONGE BOB


Sebelum aku menikah, Sponge Bob adalah film kartun yang paling aku benci. Mendengar suaranya saja cukup membuatku pusing. Suara serak Si Kotak Kuning membuat telingaku bising apalagi menontonnya, sungguh hal yang tak masuk akal. Ketika ada teman yang bilang bahwa dia sangat menyukai kelucuan cerita kartun itu, aku mengatakan kepadanya bahwa dia lebih lucu dari si Sponge Bob.

Benci ternyata bisa berubah menjadi cinta. Semuanya berawal

AYAT-AYAT MAHABHARATA



Kalau panglima perang jihad Afghanistan menulis buku Ayat Ayat Ar Rahman Dalam Jihad Afghan (Ayaatur Rahmaani Fii Jihaadil Afghan), maka diriku yang penuh dosa ini hanya akan merangkai tulisan yang jauh di bawahnya, yaitu Ayat-Ayat Ar Rahman Dalam Keping Kehidupan. Kadang aku juga tak mengerti, sering kali tanpa sengaja menemukan pelajaran dan pencerahan dari keping kecil kehidupan. Pelajaran itu kadang lahir dari daun yang berguguran, cahaya teduh rembulan, bunga yang mekar, roda yang berputar, bahkan film serial kera sakti hingga kartun Sponge Bob.

Rabu, 08 Juli 2015

SULITNYA JATUH CINTA KEPADA-MU

Karena cinta adalah rasa, maka ini bukan sesuatu yang bisa direkayasa. Mudah saja aku berkata aku mencintai-Mu tetapi itu hanya di mulut saja. Sedangkan kenyataan bukanlah sekedar ucapan. Apa yang terucap di mulut hanyalah kegombalan jika tak ada bukti nyata.

Aku kadang bertanya, kenapa seorang remaja bisa jatuh cinta? Seperti sebuah pesan dari-Nya  agar manusia mengerti apa itu rasa cinta. Ya, cinta sebuah rasa penuh sensasi hati yang paling sulit dimengerti. Rasa ini tak bisa dipaksa bahkan kadang tak bisa diupayakan seperti membalikkan telapak tangan. Sekali lagi ini masalah hati, tak sesederhana seperti membuat roti yang jika dibuat sesuai resep pasti jadi. Bahkan kadang kenyataan yang dilihat mata pun belum menunjukkan kedalaman cinta sebenarnya.

Jika anda pernah jatuh cinta, maka pasti akan mengerti. Rasa debar saat berjumpa, rasa rindu menggebu jika lama tak bertemu, salah tingkah di depan pujaan hati, cemburu tak menentu, selalu terbayang dalam angan, selalu melintas dalam ingatan. Bahkan hingga menulis status di sosial media, “Hei kamu … ya Kamu, please… aku mohon berhentilah mondar-mandir di pikiranku!” Memang salah siapa? Dia yang kepikiran orang lain yang disalahkan. Padahal orang yang dipikir belum tentu berpikir hal yang sama. Kita hanya bisa maklum, dia baru jatuh cinta.

Perasaan aneh ini bisa membuat remaja sekolah yang nilainya sering di bawah lima sekalipun menjadi bahagia. Dia menjadi lupa semua kisah nyata di sekolahnya yang penuh duka, tentang kemarahan sang guru matematika, kawan-kawan sekelas yang suka menghina, bahkan umpatan orang tuanya. Semua sisi derita tertutup oleh nikmatnya rasa cinta. Semua lagu tentang rindu membawanya terbang ke alam surga walau hanya imajinasi semata. Rasa yang bisa membuat bahagia remaja anak saudagar kaya hingga remaja miskin yang tinggal di kolong jembatan jalan raya. Perasaan suka cita yang bisa menggelora  dalam jiwa anak remaja kota hingga anak petani desa. Inilah dahsyatnya jatuh cinta.

Rasa yang sama mampu merubah seorang wanita saat masih lajang pemalas, tapi kini bisa bangun tengah malam saat bayinya menangis. Sebuah rasa yang membuat seorang ayah rela kerja lembur hingga tengah  malam tanpa mempedulikan kesehatan dirinya.  Rasa lelah dan penat mampu diusir oleh kekuatan cinta.

Rasa itu pula yang mestinya ada untuk-Nya. Bahkan idealnya cinta kepada-Nya di atas segala cinta kepada yang lain. Aku pun belum tahu “cintaku” sejauh apa? Apakah masih slogan semata? Aku takut salah menduga. Kalaulah kita mengaku jatuh cinta kepada-Nya mestinya hati ini penuh sensasi rasa bahagia. Rindu ingin berjumpa dengan sujud kepada-Nya. Menanti saat sholat dengan penuh rasa rindu seperti hendak bertemu sang kekasih. Menikmati setiap kata dan doa dalam sholat seperti saat bercengkerama dengan pujaan hati.

Ibadah bukan lagi beban tetapi menjadi sebuah candu kenikmatan. Lupa dengan segala sisi derita dalam diri karena jiwanya telah tercelup dalam manisnya samudera cinta kepada-Nya.

Kini aku mengerti rasa rindu seperti apa yang membara dalam hati  para kekasih-Nya. Cintalah yang membuat Hanzholah meninggalkan istrinya yang baru dinikahi dan terjun ke medan peperangan saat ada seruan jihad sedangkan dia masih dalam keadaan junub. Akhirnya Hanzholah mati syahid dan dimandikan para malaikat yang mulia.

Rasa cintalah yang membuat Mushab bin Umair meninggalkan dunia mudanya yang penuh gemerlap harta dan ketenaran. Dia memilih jalan perjuangan hingga akhirnya mati syahid dalam keadaan kedua tangannya putus karena memegang teguh tugasnya dalam mengibarkan bendera panji pasukan Islam. Dia tak melihat kebinasaan tetapi merasakan kenikmatan surga yang hadir di alam dunia. Mushab wafat dalam keadaan miskin dan hanya memiliki selembar kain, itupun tak cukup untuk kain kafan guna menutup seluruh tubuhnya.

Rasa yang sama membuat Abu Bakar rela memberikan semua hartanya di jalan Allah saat perang Tabuk, Hingga saat ditanya Rasulullah,”Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” dijawab,”Hanya Allah dan Rasul-Nya.”

Masih banyak kisah lain yang membuktikan kekuatan cinta. Kadang sulit diterima dengan logika, tetapi begitulah apa adanya cinta. Aku hanya ingin bisa mencintai-Nya sebagaimana mereka mencinta. Cinta kepada-Nya membuat hidup menjadi sangat nikmat. Apapun halnya selama ada di jalan-Nya maka itu membawa rasa bahagia yang luar biasa, biarpun orang banyak salah mengira. Aku hanya bisa berdoa sebagaimana doa Nabi Daud ‘alaihi salam tentang cinta,

“Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal'amalal ladzi yuballighuni hubbaka. Allahummaj'al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal mai wal baridi.”

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar selalu mencintai-Mu, mencintai orang-orang yg mencintai-Mu, dan amal perbuatan yg dapat menghantarkanku untuk mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku pada-Mu melebihi cinta pada diriku, keluargaku dan melebihi air yg menyejukkan."

Selasa, 07 Juli 2015

MENJELANG EKSEKUSI MATI







Kami berpelukan lama sekali. Mungkin karena ini adalah pelukan terakhir. Air mata tumpah tak terbendung lagi. Kulihat Bapak yang biasanya tegar pun tak kuasa menahan perasaannya.

“Bapak … Ibu, aku titip Khadija dan Faisal ya,” pesanku.

Ibu semakin terharu dan menciumi kepalaku, “Ya Allah le … yang sabar ya, pasrah dan tawakkal sama Allah. Ikhlaskan hati mudah-mudahan kamu diampuni Allah dan digolongkan ahli surga,” tukas ibu sambil tersedu-sedu.

“Amiin, ya Allah,” sahutku.
Istriku hanya bisa mencucurkan air mata tak mampu lagi untuk berkata. Kupeluk cium Faisal, anakku satu-satunya yang sekarang masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar.

“Kalau ada teman yang mengolok-olok bahwa ayahmu ini penjahat. Jangan hiraukan! Jangan dengarkan! Kamu tak perlu marah, bersabarlah. Allah lebih tahu siapa sebenarnya orang yang baik.”

“Faisal, taati dan sayangilah Ibumu. Jadilah anak yang sholeh. Mudah-mudahan kelak kamu menjadi orang yang lebih baik dari Ayah,” pesanku.
Anakku hanya mengangguk, raut kesedihan tampak dari wajahnya.

Masa jenguk telah usai, Bapak, Ibu, Khadija, dan Faisal sudah diminta sipir untuk meninggalkan lapas. Mereka pun melangkah meninggalkanku. Terasa berat tetapi bagaimanapun juga aku harus kuat. Pandangan ini mengikuti setiap langkah mereka, tak ada yang kuat menoleh kembali kepadaku, hanya Faisal yang berkali-kali menoleh melihatku.Tiga hari lagi eksekusi mati akan dilaksanakan.

***

Kupandangi selembar foto yang diselipkan Khadija tiga hari yang lalu, saat semua keluarga menjenguk untuk kali terakhir. Foto kenangan keluarga kecil, mataku tertuju pada sosok Khadija yang sedang merangkul Faisal.

Kuusap gambar raut wajah mereka dengan jari-jariku, “Wahai Istri dan anakku tersayang, maafkan jika selama ini ayah tak bisa menjadi suami dan bapak yang baik buat kalian. Malam nanti ayah akan pergi meninggalkan kalian untuk selama-lamanya. Jika orang lain tak tahu kapan akan meninggalkan orang terkasih untuk selamanya. Ayah mengetahuinya, bahkan hingga pukul berapa saat maut harus menjemput. Meskipun semua jiwa ada di tangan-Nya tetapi secara logika, beginilah keadaannya,” bisikku sambil menungggu pembimbing spiritual menjengukku untuk yang terakhir kali.

Siang tadi mungkin saat terakhir aku bisa melihat cahaya mentari. Hari terakhir bisa memandang isi dunia yang penuh warna-warni. Eksekusi tembak mati telah menantiku beberapa jam lagi.

Ini adalah perpisahan dengan alam dunia yang jelas waktunya. Tidak seperti kebanyakan orang yang tak tahu kapan akan meninggalkan keluarga, harta, saudara, dan segala aktifitas dunia. Aku merasa lebih beruntung bisa mengetahuinya, paling tidak bisa menyiapkan bekal menuju alam sesudah mati dan mempersiapkan mental keluarga yang akan kutinggalkan.   .

Ingatanku melayang ke masa lalu, seperti melihat sebuah film tentang kisah hidupku. Terbayang senyum bapak dan ibu, serta kejadian-kejadian yang berkesan saat masih kecil, Imajinasiku terus berkelana mengingat perjalanan masa muda hingga saat bahagia bersama Faisal dan Khadija.

Tiba-tiba tenggorokan ini terasa tersekat saat mengingat kejadian yang paling menyesakkan dada. Saat aku menghunus parang dan membantai seluruh keluarga Pak Bondan tanpa ampun. Tak ada yang tersisa meski satu nyawa, istri dan ketiga anaknya bahkan seorang asisten rumah tangga kuhabisi semua.

Entah setan apa yang menguasai sehingga tega membantai majikanku sendiri. Saat itu aku sudah tak bisa menahan emosi karena penghinaan luar biasa yang dilontarkan kepada orang tuaku, Jika hanya diriku yang dihina mungkin tak sekalap itu, tapi dia telah menghina bapak dan ibu dengan menyebut mereka seperti kerbau yang tolol.

Amarah dan dendam  yang membara  membuatku begitu mudahnya mengikuti bujuk rayu setan. Sekarang aku hanya bisa menyesal dengan sesal yang teramat dalam. Andai bisa kuputar waktu dan melakukan hal yang berbeda, tentu tak begini akhir ceritanya.

Apapun alasannya melakukan kejahatan tetap saja salah dan tidak bisa dibenarkan oleh agama maupun hukum negara. Aku mengakuinya dan siap menerima segala konsekuensi dari apa yang telah kuperbuat.

***
Kulihat jarum pendek jam dinding di ruang konsultasi tahanan menunjuk angka delapan, berarti kurang tiga jam lagi saat eksekusi tiba. Ustadz Amri duduk di hadapan memberikan nasihat terakhir kepadaku. Beliau memang bertugas sebagai pembimbing spiritual lapas ini. Selama masa tahanan aku banyak belajar tentang agama dan kehidupan darinya.

“Apakah Allah akan mengampuni semua dosa-dosaku, Ustadz?” tanyaku ragu.

“Allah berfirman dalam Al-Quran surat Az-Zumar ayat 53-54. Katakanlah; Hai hamba-hambaku yang telah melewati batas dalam berbuat dosa. Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyanyang. Kembalilah kalian kepada Tuhanmu, berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak lagi dapat membela diri.” Guru spiritualku menjelaskan.

Aku tiba-tiba menangis seperti seorang anak kecil. Hatiku terharu, merasa seperti mendapat jawaban langsung dari-Nya. Aku bersimpuh di pangkuan Ustadz Amri, dan bertanya sekali lagi, “Benarkah Allah akan mengampuniku, sedangkan aku telah menghilangkan banyak nyawa?”

“Ya! Jika kau sungguh bertaubat kepada-Nya maka demikianlah janji-Nya. Meskipun teman dan tetangga menganggapmu sebagai seorang pembunuh. Biarpun semua orang menganggapmu mati terhina, padahal faktanya engkau mati dalam keadaan taubatan nasuha,“ kata guru spiritualku dengan tegas.

“Qishosh adalah salah satu bentuk rahmat Allah, Niatkan dalam hati bahwa eksekusi mati yang akan kamu jalani adalah qishah bagimu. Mudah-mudahan kamu  menemui-Nya dalam keadaan bersih dari dosa sebagaimana perempuan pezina yang menyerahkan dirinya pada Rasulullah SAW untuk dirajam. Taubatnya lebih dari cukup untuk seluruh penduduk Madinah waktu itu.  Ingatkah kamu cerita yang sering aku kisahkan kepadamu tentang pembunuh 100 orang yang bertaubat? Bukankah akhirnya Allah merahmati dan mengampuninya,” nasehat Ustadz Amri.

"Insha Allah, Ustadz,” jawabku dengan kelegaan luar biasa.
“Aku titip selembar surat wasiat ini untuk istriku. Hanya beberapa pesan sederhana saja, Ustadz. Salah satunya agar dia sabar dan tak perlu larut dalam kesedihan. Karena hidup di dunia hanyalah sebentar saja. Mudah-mudahan kami bisa dipertemukan di surga-Nya nanti,” sambil menyodorkan kepada guruku secarik lipatan kertas.

“Amiiin ... ya Rabbal ‘alamiin.”

***
Detik-detik saat maut menjemput hampir tiba. Beberapa sipir menggiringku berjalan menuju tiang eksekusi yang sebenarnya adalah tiang pembebasan dosa. Aku merasakan sangat rindu kembali pada-Nya. Suatu perasaaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa yang sangat manis dan sukar diungkap dengan kata. Kuharap langkah kakiku ini adalah langkah menuju jannah-Nya.

“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin … terima kasih ya Allah atas segalanya." Hati dan lidahku terus mengucapkan istighfar tanpa henti hingga malaikat Izroil datang menjemput. Ya ... aku sedang menantikan maut.